Thursday, March 1, 2012

KALIMAT DAN KALIMAT EFEKTIF

KALIMAT DAN KALIMAT EFEKTIF

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          
Dosen:
Dra. Yayah Churiyah, S.Pd., M.Pd.




Oleh
Kelompok 4
Kelas 1 B
      Dede Ajeng Arini (1101342)
      Dede Permana       (1101470)
                  Esti Aprianti Idris (1105032)
      Isma Rachmawati (1100435)
      Oki Silvia Tryadi   (1103000)
      Yuni Andriani P.   (1101343)



PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
KAMPUS PURWAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
 Perkembangan zaman yang semakin maju tanpa disadari telah banyak mempengaruhi komunikasi di lingkungan masyarakat. Penggunaan bahasa terutama struktur kalimat dalam berkomunikasi sudah tidak diperhatikan lagi. Padahal, setiap gagasan yang dimiliki seseorang pada praktiknya harus dituangkan ke dalam bentuk kalimat. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mampu bertutur kata dengan kalimat yang efektif agar mudah dipahami orang lain secara tepat.
 Ketatabahasaan yang baik dan benar sebenarnya bukan hanya diterapkan dalam komunikasi lisan, tetapi juga dalam ragam tulisan. Pemahaman mengenai kalimat merupakan modal penting yang sangat dibutuhkan. Faktanya, tidak sedikit buku-buku, surat kabar, spanduk, hingga pamflet yang penyusunan kalimatnya tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia.
 Dalam dunia pendidikan, terkadang kita temukan para siswa yang masih sulit membedakan pola-pola kalimat, bentuk-bentuk kalimat, termasuk cara-cara pemilihan kata dan penggunaannya hingga menjadi kalimat yang efektif. Sebagai calon pengajar sekaligus pendidik, kita harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan kalimat. Dengan pemahaman tersebut, kita akan mampu mengajar anak didik kita supaya berkomunikasi dengan kalimat yang efektif, baik dalam ragam tulisan maupun komunikasi secara lisan.

B.   Rumusan Masalah
 Dalam penyusunan makalah ini perlu dirumuskan permasalahan sehingga dapat menjadi spesifik dan sistematis. Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
1.    Apa yang dimaksud dengan kalimat dalam bahasa Indonesia?
2.    Apa saja pola-pola kalimat yang ada dalam bahasa Indonesia?
3.    Apa saja jenis-jenis kalimat menurut struktur gramatikalnya?




 
 
4.   


 
Apa saja bentuk-bentuk kalimat yang ada dalam bahasa Indonesia?
5.    Bagaimana penerapan pola, jenis, dan bentuk kalimat dalam pembuatan kalimat yang benar?
6.    Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
7.    Apa saja ciri-ciri dari kalimat efektif?
8.    Bagaimana sebuah kalimat dapat dikatakan kalimat efektif?

C.   Prosedur Pemecahan Masalah

 Permasalahan di atas menunjukkan bahwa masih ada masyarakat Indonesia yang kurang menyadari betapa pentingnya ketepatan penggunaan kalimat dalam berkomunikasi dan penulisan. Maka dari itu, dalam pembahasan makalah yang berjudul “Kalimat dan Kalimat Efektif” ini kita akan memperdalam pemahaman tentang kalimat, yaitu terlebih dahulu memahami pengertian dari kalimat dalam bahasa Indonesia; mengenal pola, jenis, dan bentuk kalimat; serta memahami pengertian dan ciri-ciri dari kalimat efektif. Adapun sumber pembahasan diambil dari berbagai buku sumber, dengan buku pegangan utama yaitu buku Pendidikan Bahasa Indonesia karangan Dra. Isah Cahyani, M.Pd. dan Dr. Iyos Ana Rosmana, M.Pd. Dengan demikian, jika kita telah memahami hal-hal tersebut diharapkan kita mampu menggunakan kalimat dengan benar dan efektif, sehingga tidak ada lagi pemahaman yang salah dalam berkomunikasi dan menulis kalimat.

D.   Tujuan Penyusunan
 Tujuan yang hendak dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui serta memahami:
1.    Definisi kalimat dalam bahasa Indonesia.
2.    Pola-pola kalimat dalam bahasa Indonesia.
3.    Jenis-jenis kalimat menurut struktur gramatikalnya.
4.    Bentuk-bentuk kalimat dalam bahasa Indonesia.
5.    Penerapan pola, jenis, dan bentuk kalimat dalam pembuatan kalimat yang benar.

6. 
Definisi kalimat efektif.
7.    Ciri-ciri kalimat efektif.
8.    Kalimat yang dapat dikatakan sebagai kalimat efektif

E.   Sistematika Penyusunan Makalah
      Makalah ini terdiri atas tiga bab. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, maka sistematika penyusunan makalah ini akan diuraikan sebagai berikut.
      Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi (a) latar belakang, (b) rumusan masalah, (c) prosedur pemecahan masalah, (d) tujuan penyusunan dan (e) sistematika penyusunan makalah.
      Bab II mengemukakan pembahasan yang berkaitan dengan kalimat dan kalimat efektif, yaitu (a) definisi kalimat, (b) pola, jenis, bentuk kalimat, serta penerapannya, dan (c) definisi dan ciri-ciri kalimat efektif.
      Bab III berisi simpulan dari bagian pembahasan.



 
BAB II
KALIMAT DAN KALIMAT EFEKTIF
A.   Kalimat Bahasa Indonesia
 Menurut Tata Bahasa Tradisional, kalimat adalah satuan kumpulan kata terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap; sedangkan menurut Tata Bahasa Struktural serta Diana Leroy (2003:37), “Kalimat adalah suatu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.” (Keraf, 1980:139-140).
 Selanjutnya Keraf menyatakan, “Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun tulisan, harus memiliki subjek (S) dan predikat (P).Jika tidak memiliki unsur subjek dan unsur predikat, pernyataan itu bukanlah kalimat. Deretan kata yang seperti itu hanya dapat disebut sebagai frasa. Inilah yang membedakan kalimat dengan frasa.”
 Begitu pula, Ramlan (1981:4) menyatakan bahwa, “Kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik.” Mengenai strukturnya, Ramlan (1981:4) menyebutkan, “Ada kalimat yang berklausa dan tak berklausa.”
  Kridalaksana (1993:92) menjelaskan pengertian kalimat sebagai berikut.
1.    Satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pula intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri atas klausa;
2.    Klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan, satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa yang membentuk satuan yang bebas, jawaban minimal, seruan, salam, dsb.;
3.    Konstruksi gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata menurut pola tertentu, dan dapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
  Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1997:234) menyebutkan, “Kalimat ialah bagian terkecil dari ujaran atau teks (wacana) yang menyatakan keutuhan pikiran secara ketatabahasaan. Wujud kalimat terdiri atas lisan dan tulisan.”
4
 
5
 Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf laten, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan salah satu tanda baca, yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).

1.    Pola Kalimat
     Jika dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu:
a.    kalimat-kalimat berpredikat kata kerja; dan
b.    kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.
Akan tetapi, dalam pemakaian sehari-hari kalimat yang berpredikat kata kerja lebih besar jumlahnya daripada kalimat yang berpredikat bukan kata kerja.       Contoh:
     Gambar itu diwarnai oleh para siswa.
Kata kerja dalam kalimat ini ialah diwarnai. Kata diwarnai adalah predikat dalam kalimat ini.
Setelah ditemukan predikat, subjek dapat ditemukan dengan cara bertanya menggunakan predikat, seperti:
     Apa yang diwarnai oleh para siswa?
Jawaban pertanyaan tersebut ialah gambar itu. Kata gambar itu merupakan subjek kalimat.
Bagaimana halnya dengan objek? Unsur objek dalam kalimat hanya ditemukan dalam kalimat yang berpredikat kata kerja. Namun, tidak semua kalimat yang berpredikat kata kerja harus mempunyai objek. Objek hanya muncul pada kalimat yang berpredikat kata kerja transitif. Objek tidak dapat mendahului predikat karena predikat dan objek merupakan suatu kesatuan. Contoh:
     Ibu saya membeli.
Frasa ibu saya merupakan subjek kalimat, sedangkan kata membeli adalah unsur predikat yang berupa verba transitif. Kalimat ini belum memberikan informasi yang lengkap sebelum ada kejelasan tentang membeli itu. Oleh sebab itu, agar kalimat tersebut dapat memberikan informasi yang jelas, predikatnya harus dilengkapi, seperti kalimat di bawah ini.
6
     Ibu saya membeli beras.
           S            P          O
Andaikata suatu kalimat sudah mengandung kelengkapan makna dengan hanya memiliki subjek dan predikat yang berupa verba intransitif, objek tidak diperlukan lagi. Kalimat di bawah ini tidak memerlukan objek.
     Penanam modal asing berkembang.
                      S                          P
Kalimat itu telah memberikan informasi yang jelas sehingga tidak perlu dilengkapi lagi. Jika di belakang unsur berkembang ditambah dengan sebuah kata atau beberapa kata, unsur tambahan itu bukan objek, melainkan keterangan. Misalnya:
     Penanam modal asing berkembang saat ini.
                      S                          P              K

2.    Jenis Kalimat Menurut Struktur Gramatikalnya
     Menurut strukturnya, kalimat bahasa Indonesia dapat berupa kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
a.    Kalimat Tunggal
Kridalaksana (1987:95) berpendapat, “Kalimat tunggal terdiri atas satu klausa bebas. ”Jadi, kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa atau dua unsur inti pembentuk kalimat (subjek dan predikat) dan dapat diperluas dengan unsur tambahan (objek dan keterangan) asalkan tidak membentuk pola kalimat baru. Berikut adalah susunan pola dari kalimat tunggal.
1)   Memiliki subjek kata benda dan predikat kata kerja.
Contoh: Kakak membaca.
2)   Memiliki subjek kata benda dan predikat kata sifat.
Contoh: Anak itu pintar.
3)   Memiliki subjek kata benda dan predikat kata bilangan.
Contoh: Harga pensil itu dua ribu rupiah.
4)   Memiliki subjek kata benda dan predikat kata depan juga kata benda.
Contoh: Hadiah untuk teman.
5)  
 7
Memiliki subjek kata benda, kata kerja sebagai predikat, dan kata benda sebagai objek.
Contoh: Anak itu memukul kucing.
6)   Terdiri atas subjek kata benda, predikat kata kerja, dan objek kata benda beserta pelengkap.
Contoh: Ayah membelikan saya buku.
7)   Memiliki subjek dan predikat berupa kata benda.
Contoh: Pak Dani petani.
Kalimat Tunggal dan Perluasannya
     Sebuah kalimat tunggal dapat diperluas menjadi kalimat majemuk. Perluasan tersebut dapat terjadi pada subjek, predikat, objek, atau keterangan. (P. Tukan, 2007:99).
     Perhatikan contoh-contoh berikut!
1.    a)  Murid itu pintar. (tunggal)
           S           P       
b)  Murid itu sakit. (tunggal)
           S          P
c)  Murid yang pintar itu sakit. (majemuk dengan perluasan anak kalimat
                     S                    P      subjek)
2.    a)  Bibi Hana mencuci pakaian. (tunggal)
            S              P          O
b)  Bibi Hana menyetrika pakaian. (tunggal)
            S                P               O
c)  Bibi Hana mencuci dan menyetrika pakaian. (majemuk dengan perluasan
             S                          p                         O        anak kalimat predikat)

b.    Kalimat Majemuk
Diana Leroy (2003:37) menjelaskan, “Kalimat majemuk adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih.”
Menurut Kridalaksana (1987:94), “Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa. Jika kalimat tersebut terdiri atas klausa bebas, kalimat tersebut merupakan kalimat majemuk setara. Akan tetapi, apabila kalimat tersebut klausanya dihubungkan secara fungsional, salah satu di antaranya berupa klausa bebas sedangkan yang lainnya berupa bagian fungsional dari klausa atasan.”
8
     Kalimat majemuk dalam www.en.wikipedia.org dikatakan, “Kalimat majemuk adalah kalimat yang mempunyai dua pola kalimat atau lebih. Setiap kalimat majemuk mempunyai  kata penghubung yang berbeda, sehingga jenis kalimat tersebut dapat diketahui dengan cara melihat kata penghubung yang digunakannya.”
     Kalimat majemuk dapat dibedakan menjadi:
1)   Kalimat Majemuk Setara (Koordinatif)
     Kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang pola-pola kalimatnya memiliki kedudukan yang sederajat. Kesetaraan antara pola-pola dalam satu kalimat ditentukan oleh jenis konjungsi yang dipakai, yaitu konjungsi setara. Oleh karena itu, jenis kalimat majemuk setara sangat ditentukan pula oleh jenis konjungsi setara yang dipakai di dalamnya, seperti tampak berikut ini.
a)    Setara menggabungkan, ditandai dengan kata dan, serta, lagi, pula, dan juga.
Contoh: Ibu menjahit dan ayah membaca koran.
b)   Setara menguatkan, ditandai dengan kata bahkan dan apalagi.
     Contoh: Taman laut di Pangandaran indah, bahkan sangat mengagumkan.
c)    Setara memilih, ditandai dengan kata atau.
     Contoh: Apakah kita akan pergi atau kita tinggal di rumah?
d)   Setara mempertentangkan, ditandai dengan kata tetapi, melainkan, sedangkan, dan namun.
     Contoh: Kakaknya rajin, tetapi adiknya malas.
e)    Setara sebab akibat, ditandai dengan kata sebab atau karena itu.
     Contoh: Perut saya sakit sebab banyak makan rujak.

2)   Kalimat Majemuk Bertingkat (Subordinatif)
     Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih yang tidak sederajat. Sebenarnya, kalimat majemuk bertingkat ini berasal dari kalimat tunggal yang salah satu unsurnya (predikat, objek, atau keterangan) diperluas sehingga perluasan itu membentuk pola kalimat yang baru.
9
     Di dalam kalimat majemuk bertingkat terdapat induk kalimat dan anak kalimat. Induk kalimat adalah pola kalimat yang berasal dari perluasan salah satu unsurnya. Anak kalimat adalah pola kalimat yang tetap, tetapi tidak berasal dari perluasan salah satu unsur kalimat. (Diana Leroy, 2003:38).
Cara penulisan kalimat majemuk bertingkat:
Jika induk kalimat mendahului anak kalimat, tidak boleh menggunakan tanda koma. Contoh: Ia tidak jadi berangkat karena hari hujan.
Jika anak kalimat mendahului inaduk kalimat, harus menggunakan tanda koma di antara anak kalimat dengan induk kalimat tersebut. Contoh: Karena hari hujan, ia tidak jadi berangkat.

3)   Kalimat Majemuk Campuran (Koordinatif-Subordinatif)
     Kalimat majemuk campuran adalah kalimat yang terdiri atas sebuah pola utama dan sekurang-kurangnya dua pola bawahan, atau sekurang-kurangnya dua pola utama dan satu / lebih pola bawahan. Contoh:
Ani tidak tahu jika perpustakaan tutup, sehingga ia tidak dapat meminjam buku.
  pola utama            pola bawahan
Kalimat ini adalah kalimat majemuk campuran (gabungan antara kalimat majemuk bertingkat dengan kalimat majemuk setara) yang terdiri atas satu pola utama dan dua pola bawahan.

4)   Kalimat Majemuk Rapatan
     Kalimat majemuk rapatan yaitu gabungan beberapa kalimat tunggal yang karena subjek, predikat atau objeknya sama maka bagian yang sama hanya disebutkan sekali.
Contoh:
Pekerjaannya hanya makan. (kalimat tunggal 1)
Pekerjaannya hanya tidur. (kalimat tunggal 2)
Pekerjaannya hanya merokok. (kalimat tunggal 3)
Pekerjaannya hanya makan, tidur, dan merokok. (kalimat majemuk rapatan)


3.   
10
Bentuk Kalimat
a.    Kalimat Aktif
Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya melakukan perbuatan / tindakan. Kalimat aktif dibagi atas:
1)   Kalimat Aktif Transitif
Kalimat aktif transitif bercirikan: (1) predikatnya berupa verba transitif atau verba yang berawalan meN-, dan (2) memiliki objek, misalnya:
a)    Saya mengerjakan tugas bahasa Indonesia. (tugas bahasa Indonesia berfungsi sebagai objek).
b)   Ibu memasak nasi. (nasi berfungsi sebagai objek).
Kalimat aktif transitif dibedakan atas kalimat aktif ekatransitif, yaitu kalimat yang hanya memiliki satu objek, dan kalimat aktif bitransitif, yaitu kalimat yang memiliki dua objek.
2)   Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat aktif intransitif bercirikan (1) predikatnya dapat berupa verba berawalan selain meN-, kata dasar, baik itu verba maupun nonverba, dan (2) tidak memiliki objek, misalnya:
a)    Kami duduk-duduk di teras rumah.
b)   Ayah tidur mendengkur.

b.    Kalimat Pasif
Kalimat pasif adalah kalimat yang menunjukkan bahwa subjek merupakan tujuan dari pekerjaan dalam predikat verbanya, contoh :
1)   Surat itu ditulis oleh Mira.
2)   Buku dibaca semua orang.

Perhatikan perbedaan antara kalimat aktif dengan kalimat pasif berikut ini!
No.
Kalimat aktif
Kalimat pasif
1.
Subjek
Objek
2.
Predikat (meN-)
Predikat (di-, ter-, ku-, saya-, dia-)
3.
Objek
Subjek

B. 
11
Kalimat Efektif
     Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas, sehingga dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. (Isah Cahyani. dan Iyos Ana Rosmana, 2009:82; Dra. Sri Hastuti, 2010:10).
     Dra. Sri Hastuti menjelaskan lebih lanjut, “Keefektifan suatu kalimat dapat diketahui melalui penanda kalimat efektif yaitu subjek kalimat jelas, bukan klausa bawahan, pilihan kata tepat, tidak ambigu, dan ide kalimat logis.”
Karena lingkungan kotor, sehingga banyak lalat beterbangan di sana. (tidak efektif karena subjek tidak jelas)
Lingkungan kotor sehingga banyak lalat beterbangan di sana. (efektif)
Dengan demikian, ciri kalimat efektif adalah (a) kesepadanan dan kesatuan, (b) kesejajaran bentuk, (c) penekanan, (d) kehematan dalam menggunakan kata, dan (e) kevariasian dalam struktur kalimat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan, 1995:4). Disamping itu, khusus dalam ragam tulis masih diperlukan satu ciri lagi bagi kalimat efektif, yaitu ketepatan penulisannya.
Ciri kesepadanan dan kesatuan berkaitan dengan kegramatikalan kalimat. Kalimat harus memiliki subjek dan predikat, atau bisa ditambah dengan objek, keterangan, dan unsur-unsur lainnya. Ciri kesejajaran (paralelisme) adalah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Ciri penekanan dalam kalimat berhubungan dengan ide pokok. Ciri kehematan berhubungan dengan pilihan kata, pembentukan kata atau frasa, maupun menggunakan penalaran yang logis. Ciri kevariasian berurusan dengan upaya menghasilkan daya informasi yang baik dan tidak membosankan.
Ada pula yang menyebutkan bahwa kalimat efektif mempunyai ciri (a) kejelasan gagasan kalimat, (b) kepaduan unsur kalimat, (c) kecermatan pembentukannya, dan (d) kevariasian penyusunannya. Ciri kejelasan gagasan kalimat berkaitan dengan kegramatikalan kalimat. Ciri kepaduan unsur kalimat menyangkut penataan unsur kalimat. Ciri kecermatan berhubungan dengan pilihan kata, pembentukan kata atau frasa, dan penalaran yang logis. Ciri kevariasian berurusan dengan upaya menghasilkan daya informasi yang baik dan tidak membosankan. Ketiga ciri pertama menyangkut pembentukan kalimat secara mandiri, sedangkan ciri keempat telah menyangkut pembentukan kalimat dalam hubungannya dengan kalimat lain.
12
Di samping istilah kalimat efektif, dikenal pula istilah kalimat baku. Kalimat baku, sebagai pendukung bahasa baku, menuntut situasi pemakaian secara resmi dan kesesuaiannya dengan kaidah kebahasaan. Bila dikaitkan dengan keempat ciri kalimat efektif di depan, kalimat baku hanya menuntut tiga ciri yang pertama karena kalimat baku berorientasi pada pembahasan kalimat secara mandiri. Oleh karena itu, kalimat efektif dapat mencakup kalimat baku.
Untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai kalimat efektif, keempat ciri yang pertama akan dibicarakan satu per satu.
1.    Kejelasan Gagasan
Setiap kalimat efektif haruslah memiliki gagasan yang jelas. Kejelasan gagasan terlihat pada adanya satu ide pokok. Keberadaannya dalam kalimat dapat diamati pada hadirnya subjek (S) dan predikat (P) ataupun diikuti objek (O) dan keterangan (K) kalimat. Gagasan kalimat biasanya menjadi kabur bila kedudukan S atau P tidak jelas karena kesalahan penggunaan kata depan tertentu. Untuk itu, perhatikan contoh berikut menurut S. Ningsih (2010:15).
     Dari  survey  dan  penelitian  yang  penulis lakukan menunjukkan bahwa krisis
     pangan sudah semakin gawat.
Kalimat tersebut tidak efektif karena kehadiran kata depan dari menyebabkan subjeknya menjadi kabur. Oleh karena itu, harus dimunculkan subjek dengan cara menghilangkan kata dari.
2.    Kepaduan Unsur Kalimat
Kepaduan mengacu kepada hubungan yang serasi antarbagian kalimat. Oleh karena itu, penataan unsur-unsur kalimat secara tepat menjadi bagian penting. Kalimat berikut ini terlihat kurang padu karena antara kata Tanya apakah dan bagian inti yang ditanyakan (penyuluhan) dipisahkan oleh keterangan.
Apakah   menurut   Anda   penyuluhan  ini  adalah   cara   yang  terbaik   untuk
mencapai tujuan tersebut?
13
Agar kepaduan itu terjalin, keterangan menurut Anda dikeluarkan di antara keduanya. Keterangan tersebut dapat diletakkan pada awal kalimat, seperti pada kalimat berikut.
Menurut Anda, apakah penyuluhan ini adalah cara yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut?
3.    Kecermatan
Di samping kalimat efektif harus memiliki kejelasan gagasan dan kepaduan unsur-unsur kalimatnya, kalimat efektif dituntut pula memiliki ciri kecermatan. Ciri ini menyangkut penggunaan kata yang tepat, penghindaran unsur mubazir, pembentukan frasa yang tepat, pemakaian konjungsi yang tepat, pembentukan kata yang sejajar, dan penalaran yang logis.
a.    Penggunaan kata secara tepat
Penggunaan kata yang tepat menyangkut pemilihan kata-kata yang sesuai dengan konteksnya. Contohnya dapat diamati pada kalimat berikut ini.
Akan tetapi, untuk proyek-proyek di bidang pendidikan yang bermisikan  peningkatan mutu, hasilnya tentu tidak sejelas hasil proyek-proyek pengadaan sarana fisik, meskipun dampaknya seharusnya juga teramati, kalau toh tidak dapat diukur secara cermat.
Pilihan kata kalau toh menunjukkan ketidakcermatan penulis karena kalimat tersebut dipaparkan dalam laporan resmi
b.    Penghindaran unsur mubazir
Kecermatan kalimat mengacu pula pada penggunaan kata-kata yang sehemat-hematnya. Kata-kata yang berlebihan akan mubazir. Kata adalah dan merupakan mengandung makna yang hampir sama. Oleh karena itu, penggunaan keduanya secara bersama-sama sangat mubazir, seperti:
MOKAKU 2011 ini adalah merupakan masa orientasi kampus bagi mahasiswa UPI kampus daerah Purwakarta, dan juga bagi kampus-kampus daerah lainnya.



c.   
    14
Pembentukan frasa yang tepat
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih, yang masing-masing katanya tetap mempertahankan makna dasarnya. Gabungan kata tersebut menghasilkan suatu relasi tertentu dan tiap kata pembentuknya tidak bisa berfungsi sebagai subjek dan predikat. (Diana Leroy, 2003:34). Contohnya yaitu soto Betawi dan baju adik.
Pada bahasan sebelumnya diungkapkan bahwa ketidakcermatan penyusunan kalimat di antaranya ditandai oleh pemakaian kata-kata depan yang berlebihan, sehingga harus dihilangkan dalam perbaikannya. Namun, tidak jarang pula ditemukan dalam pemakaian sehari-hari, kata depan yang seharusnya ada frasa tertentu justru tidak muncul. Hal itu dapat diamati pada contoh berikut.
Oleh karena jadwal pemberangkatan peserta program Applied Approach diatur secara bergelombang, demi efisiensi pelaksanaan pencetakan buku teks juga diselenggarakan secara bergelombang sesuai ketersediaan bahan yang memang telah siap dicetak.
Kata depan dengan seharusnya hadir diantara sesuai dengan ketersediaan pada kalimat di atas.
d.   Pemakaian konjungsi yang tepat
Pemakaian konjungsi yang tepat juga menjadi ciri kecermatan penyusunan kalimat efektif.
e.    Pembentukan kata yang sejajar
Pembentukan kata-kata dalam suatu rincian haruslah mencerminkan kesejajarannya. Pembentukan itu terlihat pada penggunaan awalan me- pada mengerti, mengetahui, mengenal, memahami, dan mengamalkan berikut.
Sebagai warga Indonesia yang baik, yang mengerti dan mengetahui akan kedudukannya, mengerti dan mengetahui akan hak dan kewajibannya, wajib bagi kita untuk mengenal, memahami, dan mengamalkan pandangan hidupnya.
f.     Penalaran yang logis
Kalimat yang cermat haruslah bermakna logis. Logis artinya masuk akal. Ketidaklogisan kalimat berikut disebabkan penggunaan kata demikian dan ingin, yang maknanya dalam kalimat tersebut bertentangan.
15
Saudara-saudara sekalian, demikian yang ingin kami sampaikan pada kesempatan ini untuk kita jadikan  bahan renungan guna pengembangannya lebih lanjut, sehingga bermanfaat bagi kita dalam mengemban tugas sebagai penatar dan sebagai warga negara Republik Indonesia.
Kata demikian menunjukkan makna bahwa sesuatu telah terjadi, sedangkan ingin menyatakan sesuatu yang belum terjadi. Karena itu, akibat pemakaian keduanya, kalimat tersebut kurang logis. Sebaiknya kata ingin dihilangkan.
4.    Kevariasian Penyusunan Kalimat
Bila tiga ciri pembentukan kalimat efektif yang telah dipaparkan di depan lebih berorientasi pada ciri kalimat secara mandiri, ciri kevariasian ini sebagian besar berkaitan dengan hubungan antarkalimat. Upaya ini dimaksudkan untuk meng-hasilkan daya informasi yang baik dan tidak membosankan. Untuk mendukung maksud tersebut, diperlukan berbagai upaya seperti berikut.
a.    Pemakaian kata-kata yang bersinonim
Untuk tidak menimbulkan kesan membosankan akibat pemakaian kata-kata yang sama dalam satu kalimat, sebaiknya digunakan kata-kata yang bersinonim.
b.    Pengubahan urutan unsur kalimat
Bila beberapa rangkaian kalimat disusun dengan pola yang sama, akan timbul kesan membosankan. Untuk menghindari hal itu, urutan-urutan unsur kalimat dapat diubah-ubah, sehingga pola-pola kalimat yang ada berbeda-beda.
c.    Pemakaian bentuk aktif dan pasif
Variasi pemakaian bentuk ini, baik pada satu kalimat maupun pada rangkaian kalimat dapat memberikan kesan kesegaran penyampaian informasi.
d.   Penyusunan kalimat panjang dan pendek
Rangkaian kalimat yang pendek-pendek dapat menimbulkan kesan membosankan. Demikian halnya bagi kalimat yang panjang-panjang. Untuk menghindari kesan yang demikian, variasi penyusunan kalimat dapat dilakukan melalui penciptaan kalimat yang panjang dipadukan dengan kalimat yang pendek.

       DAFTAR PUSTAKA
Cahyani, I. dan Rosmana, I.A. (2006). Pendidikan Bahasa Indonesia. Bandung:
              UPI Press
Hastuti, S. (2009). Bahasa Indonesia. Surakarta: Widya Duta Grafika
Leroy, D. (2003). Soal-Soal dan Pembahasan UAN Bahasa Indonesia SMP.
  Jakarta: Erlangga
Ningsih, S. (2010). Strategi Sukses Ujian Nasional SMA. Surakarta: Pratama
  Mitra Aksara
Tukan, P. (2007). Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta: Yudhistira


17
 











Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment