Thursday, March 1, 2012

KETERAMPILAN DALAM PEMBELAJARAN IPS

A. Keterampilan Bertanya

Dalam era globalisasi ini, informasi merupakan sesuatu yang amat berharga bagi manusia dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial. Tanpa informasi yang cukup dan akurat sulit bagi manusia untuk mengambil suatu kebijakan dan keputusan yang harus segera dilakukan guru menetapkan solusi dari suatu permasalahan yang sedang dihadapi.

Untuk memperoleh informasi yang cukup lengkap, di perlukan keterampilan tertentu dalam hal menyusun, memilih, dan menggunakan pertanyaan. Untuk itu dalam uraian ini akan di paparkan tentang cara untuk menggali dan melatih menggunakan keterampilan bertanya.

Terdapat beberapa syarat pertanyaan yang baik, bila guru akan mengajukan pertanyaan kepada siswa saat proses pembelajaran berlangsung, yaitu :

1. Pertanyaan diungkapkan dengan kata-kata atau bahasan yang mudah di mengerti oleh siswa.

2. Pertanyaan diungkapkan secara singkat dan jelas.

3. Pertanyaan tidak terlalu luas cakupannya, bersifat spesifik atau khusus.

4. Pertanyaan yang diajukan tidak mengandung makna yang ganda.

Selain bentuk pertanyaan yang harus memenuhi syarat, cara mengajukan pertanyaan pun harus memiliki ketentuan sebagai berikut :

  1. Pertanyaan hendaklah diajukan ke seluruh ke;as, kemudian menunjuk seorang siswa untuk menjawabnya. Hal ini memberi waktu kepada semua anak untuk berfikir tentang jawaban pertanyaan yang diajukan oleh guru.
  2. Tidak memancing jawaban serentak.
  3. 4

    Adakan penyebaran dan pemindahan giliran bagi siswa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru.
  4. Hindari pengulangan pertanyaan yang berkali-kali untuk melatih anak agar lebih memusatkan perhatiannya pada guru pada saat guru mengajukan pertanyaan.

Beberapa alasan mengapa seorang guru sangat penting memiliki ketrampilan bertanya, antara lain ialah :

  1. Kebiasaa guru terlalu sering menggunakan metode ceramah, kebiasaan siswa dalam bertanya dapat melatih siswa untuk mengemukakan gagasan dan memperbaiki salah persepsi tentang bertanya.
  2. Kebiasaan guru menggunakan metode ceramah tidak menguntungkan bagi tercapainya tujuan pembelajaran karena cenderung menempatkan guru sebagai sumber informasi, sedangkan siswa hanya sebagai penerima informasi yang pasif.
  3. Latar belakang kehidupan anak di lingkungan keluarga dan masyarakat kurang melatih anak untuk mengeluarkan pendapat atau mengajukan pertanyaan.
  4. Cara belajar siswa aktif (CBSA) menuntut siswa lebih banyak terlibat secara mental dalam proses pembelajaran, seperti bertanya dan berusaha mengemukakan jawaban-jawaban dari suatu masalah yang dihadapi siswa.
  5. Adanya anggapan yang keliru tentang tujuan penggunaan pertanyaan yang hanya di anggap suatu instrumen untuk menilai hasil belajar siswa.

Memperhatikan beberapa alasan tersebut di atas, tampak bahwa penguasaan keterampilan bertanya bagi seorang guru adalah sangat penting. Karena penguasaan keterampilan bertanya yang efektif dan efisien dalam proses pembelajaran IPS di harapkan dapat menghasilkan perubahan sikap kearah positif dalam diri siswa dan guru, sehingga tujuan pembeljaran dapat dicapai secara optimal.

Ada beberapa tujuan yang ingin di capai agar seorang guru dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan keterampilan bertanya dasar yang tepat, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang di inginkan. Tujuan yang ingin dicapai dengan menggunakan pertanyaan antara lain :

1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan

2. Memusatkan perhatian siswa terhadap mutu pokok bahasan atau konsep

3. Mendiagnosa kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar

4. Mengembangkan cara belajar siswa aktif

5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi

6. Memperbaiki salah pengertian dan salah pemahaman konsep oleh siswa

7. Mendorong siswa mengemukakan pendapatnya dalam diskusi

8. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa

(Bolla dan Pah; 1984)

Agar tujuan penggunaan keterampilan bertanya dapat tercapai dengan baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Guru harus dapat memperhatikan ketepatan dalam pemakaian bahasa, sehingga anak dapat memahani suatu konsep secara logis jika pertanyaan ringkas dan jelas, serta frekuensi pertanyaan tidak terlalu tinggi untuk jarak waktu yang tidak lama.

2. Pertanyaan yang dikemukakan guru perlu diarahkan pada pelajaran atau informasi yang dikaitkan selaras dengan materi pelajaran sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.

3. Pertanyaan harus di susun dengan kata-kata yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa yang ada dalam suatu kelas agar maksud pertanyaan dapat tercerna oleh pikiran mereka.

4. Pilihan dan penggunaan kata-kata sebaiknya seefisien mungkin.

5. Dalam menysun pertanyaan dapat diberikan kata-kata kunci untuk mengarahkan jawaban siswa.

Jika siswa gagal menjawab atau jawabannya kurang sempurna atas pertanyaan yang diajukan guru, maka guru perlu melakukan antara lain hal-hal sebagai berikut :

1. Menyusun kembali hasil reaksi pertanyaan dengan makna yang sama. Kegagalan siswa dalam menjawab pertanyaan umumnya karena kegagalan dalam memahami kata-kata atau konsep yang ada dalam pertanyaan. Guru dapat menghindari kata-kata dalam pertanyaan yang sulit dimengerti siswa.

2. Mengajukan pertanyaan yang sederhana dan relavan dengan pertanyaan sebelumnya, misalnya dengan menunjuk dan menggunakan pengalaman siswa atau pengetahuan yang ada untuk mebantu siswa menafsirkan pertanyaan.

3. Mereview informasi yang diberikan sebelumnya ada kalanya dapat membantu siswa dalam menjawab pertanyaan. Kegagalan dalam menjawab pertanyaan sebagai tanda bahwa reaksi pembelajaran memiliki tingkatan kesulitan yang tinggi.

Pemberian waktu untuk berfikir kepada siswa merupakan hal yang penting. Memberikan waktu kepada siswa minimal 5 detik setelah pertanyaan diajukan memiliki beberapa keuntungan, diantaranya siswa akan merespons terhadap jawaban untuk mengeluarkan pendapat akan bertambah banyak, siswa dapat berinteraksi dengan sesamanya dan siswa yang bertannya pun semakin bertambah. Dari segi guru pun dengan pemberian waktu berfikir ini ada kecendrungan guru untuk menambah variasi dalam mengajukan pertanyaan. (Rowe : 1974)

Keantusiasan dan kehangatan perlu diperhatikan guru saat mengajukan pertanyaan dan ketika murid jawaban pertanyaan. Upaya ini bertujuan agar perhatian para siswa lebih terfokus kepada pokok pembahasan yang sedang dibahas. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memberikan kehangatan dan keantusiasan ialah dengan cara menerima jawaban siswa dan menggunakan jawaban itu sebagai titik tolak uraian selanjutnya.

Ada beberapa kebiasaan yang perlu dihindari dalam mengajukan pertanyaan antara lain :

1. Mengulangi pertanyaaan sendiri

Guru yang memiliki kebiasaan mengulangi pertanyaan sendiri akan menyebabkan menurunnya perhatian dan partisipasi siswa.

2. Mengulangi jawaban siswa

Setelah suatu pertanyaan dikemukakan siswa memberi jawaban, sering terjadi guru mengulangi kata-kata atau kalimat jawaban siswa. Kebiasaan guru seperti ini akan menimbulkan hal-hal yang tidak dikhendaki, diantaranya waktu terbuang untuk mengulangi jawaban siswa yang sebenarnya tidak perlu.

3. Menjawab pertanyaan sendiri

Kebiasaan seperti ini akan mengakibatkan siswa frustasi atau sekali mereka tidak mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Siswa beranggapan bahwa mereka tidak perlu memikirkan jawabannya karena guru akan menjawabnya.

4. Pertanyaan yang memancing jawaban yang serentak

Sering terjadi guru mengajukan pertanyaan yang sifatnya meminta siswa-siswa di dalam kelas memberikan jawaban serentak.

Ada beberapa pertanyaan yang mengandung jawaban serentak yaitu : Pertama, pertanyaan yang jawabannya terlalu mudah atau telah diketahui oleh siswa. Contohnya : “Apa nama lagu kebangsaan Indonesia?”. Kedua, pertanyaan yang memiliki pancingan tertentu yang mengandung jawaban serentak. Contoh ; “apakah kamu semua pernah berpergian naik mobil bis ?”

5. Pertanyaan ganda

Guru kadang-kadang tidak menyadari mengajukan pertanyaan yang meminta siswa untuk melakukan siswa dari satu tugas. Misalnya; “Siapa nama pahlawan nasional wanita dari Aceh, dan dimana ia dimakamkan, serta mengapa terjadi perlawanan rakyat aceh?”. Dalam pertanyaan tersebut ada tiga tugas yang harus dilakukan sekaligus. Pertanyaan seperti ini dapat mematahkan semangat siswa yang hanya bias menjawab suatu pertanyaan saja dan karenanya dapat menyebabkan partisipasi siswa akan berkurang.

6. Menunjuk salah seorang siswa sebelum pertanyaan diajukan

Sebelum mengajukan pertanyaan adakalnya guru menentukan nama siswa yang harus menjawab. Hal ini dapat menyebabkan siswa lain tidak memikirkan jawaban yang diajukan oleh guru.

Disamping keterampilan bertanya yang digunakan guru dalam peruses pembelajaran IPS, ada pula keterampilan bertanya yang digunakan untuk mengumpulkan data, antara lain wawancara dan penyusunan angket.

1. Wawancara

Wawancara (interview) adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada responden. Jawaban-jawaban dari responden dicatat dan direkam dengan alat perekam, Keuntungan dari penggunaan teknik wawancara ini ialah; a). dapat digunakan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis, b). bila ada pertanyaan yang belum bisa dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya, c). pewawancara dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding atau dengan melihat wajah dan gerak gerik responden. Sedangkan kerugiannya ialah; a). wawancara memerlukan biaya yang sangat banyak untuk perjalanan dan uang harian pengumpul data, b). wawancara hanya dapat menjangkau jumlah responden yang lebih kecil, c). kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden, d). perlu persiapan pedoman wawancara terlebih dahulu sebelum pelaksanaan wawancara.

2. Penyebaran angket

Angket merupakan teknik pengumpulan data dengan menyerahkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Sedangkan responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan secara tertulis. Kelebihan penggunaaan angket yakni; a). dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar, karena dapat diberikan malalui post, b). biayanya yang diperlukan dalam membuat angket ini relative murah, c). tidak terlalu mengganggu responden karena pengisiannya dilakukan oleh responden itu sendiri. Sedangkan kekurangannya ialah; a). Jika angket dikirim melalui post, maka prosentase yang dikembalikan relative rendah, b). Tidak dapat digunakan untuk responden yang tidak terbiasa membaca dan menulis, c). Pertanyaan-pertanyaan bisa ditafsirkan salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapatkan penjelasan.

B. Keterampilan Memperoleh, Menganalisis, Menyajikan, dan Memanfaatkan

Informasi

1. Keterampilan Memperoleh Informasi

Banyak cara yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi, diantaranya dengan membaca buku teks atau buku sumber, melalui media massa seperti radio, televisi, surat kabar, dan majalah serta melalui lingkungan masyarakat yang ada di sekitarnya. Memperoleh informasi dengan melalui membaca buku teks atau buku sumber diperlukan keterampilan membaca yang cukup tinggi.

Untuk dapat membaca yang baik ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ;

1. pahamilah terlebih dahulu tema atau judul yang akan dibaca,

2. bacalah dengan teliti dan pahami makna alinea atau paragraf yang telah dibaca,

3. catat kata-kata kunci dalam bacaan yang sedang dibaca,

4. catat kata-kata sulit yang tidak dimengerti maknanya dan cari dalam kamus atau ensiklopedia,

5. tarik kesimpulan sementara setiap bab atau bagian yang telah dibaca.

Dengan memperhatikan beberapa hal tersebut di atas, akan mempermudah dan mempercepat proses pemahaman dan mengambil intisari yang telah dibaca serta dengan cepat menarik suatu kesimpulan.

Sumber lain untuk memperoleh informasi adalah media massa, baik media cetak seperti surat kabar dan majalah, maupun media elaktronik seperti radio dan televisi. Melalui media massa kita dapat memperoleh informasi actual dan terkini, sehingga informasinya dapat dengan cepat menyebar ke seluruh masyarakat, baik di tingkat lokal, nasional dan internasional.

Ada beberapa keuntungan perolehan informasi melalui media massa, yaitu :

1). Informasi dapat dengan cepat sampai kepada penerima informasi.

2). Informasi yang diterima lebih aktual dan terkini.

3). Informasi yang diperoleh akan lebih dipercaya karena dilengkapi dengan tayangan gambar-gambar atau foto-foto.

4). Lebih menarik dan mudah dicerna oleh penerima informasi.

Adapun kelemahannya adalah :

1) tidak semua orang memiliki alat atau sarana media komunikasi yang dibutuhkan,

2) memerlukan waktu khusus untuk menyimak informasi, terutama media elektronika, orang yang selalu sibuk tidak sempat menonoton televisi, mendengarkan radio, dan membaca majalah serta surat kabar,

3) belum seluruh pelosok tanah air telah dimasuki aliran listrik, jadi cukup menyulitkan menggunakan media elektronik,

4) tidak semua masyarakat mampu membeli televisi, berlangganan surat kabar dan majalah.

Media massa apapun yang kita manfaatkan untuk memperoleh informasi diperlukan kecermatan dan ketelitian menerima informasi tersebut. Kadang-kadang informasi yang diterima melalui media massa tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, karena sering terjadi intervensi dari peliput berita, yang memiliki kepentingan tertentu. Walaupun demikian media massa merupakan sarana yang patut kita manfaatkan sebagai sumber untuk memeperoleh informasi.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran IPS, materi yang disampaikan kepada siswa tidak semata-mata bersumber dari buku teks, melainkan tidak jarang berasal dari lingkungan masyarakat sekitar siswa. Oleh karena itu sumber belajar IPS tidak hanya berasal dari hasil interaksi guru dan siswa di dalam kelas, tetapi juga berasal dari luar kelas.

2. Keterampilan Menganalisis Informasi

Dalam kegiatan penelitian sosial seorang peneliti sebelum menarik kesimpulan atas data atau informasi yang diperoleh, langkah yang tidak kalah pentingnya adalah menganalisa atau menafsirkan data-data yang telah terkumpul.

Adapun tujuan yang ingin dicapai dengan menganalisis data atau informasi dalam suatu penelitian adalah :

1) Untuk mengidentifikasi motif, alasan atau sebab dari suatu kejadian,

2) Mempertimbangkan atau menganalisis informasi-informasi agar diperoleh kesimpulan dan generalisasi berdasarkan informasi tersebut,

3) Menganalisis suatu kesimpulan atau generalisasi untuk menemukan kejadian-kejadian yang dapat mendukung atau menolak kesimpulan atau alasan itu.

Untuk menganalisis data atau informasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang peneliti social, yaitu:

a) Penganalisis data atau informasi hendaklah memiliki ilmu yang memadai sebagai peneliti, terutama dalam kaitannya dengan analisis data hasil penelitian,

b) Alat (instrumen) untuk menganalisa data harus sesuai dengan tujuan dan teori penelitian, dalam hal ini metode penelitian,

c) Analisa data dilakukan berdasarkan informasi yang dikumpulkan secara objektif dan factual,

d) Sebelum analisa data dilakukan perlu adanya pemilahan data-informasi berdasarkan permasalahan penelitian yang sedang dilakukan.

Keempat hal tersebut di atas hendaklah benar-benar diperhatikan oleh seorang peneliti sosial agar hasil penelitian dapat dijadikan sebagai informasi yang berharga bagi pengembangan ilmu selanjutnya, atau sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan kebijakan atau membuat rencana untuk masa yang akan datang.

3. Keterampilan menyajikan informasi

Sekumpulan data dan informasi yang diperoleh, diolah, dianalisis kemudian ditarik suatu kesimpulan. Data yang diperoleh baru akan bermanfaat bagi pihak lain, selain peneliti hendaknya dapat disajikan dengan sistematis sehingga mudah diterima dan dicerna oleh orang lain. Selengkap apapun informasi yang telah terkumpul dan diolah dengan baik, namun karna penyajiannya kurang sistematis dan menarik perhatian orang lain, maka data atau informasi itu kurang bermakna dan sulit dimengerti oleh pemerhati.

Dalam pembelajaran IPS di Sekolah Dasar guru hendaknya dapat menjadi penyaji yang baik dan menarik, agar siswa memiliki minat dan perhatian yang tinggi serta antusias dalam proses pembelajaran. Salah satu cara yang digunakan guru dalam menyajikan materi pembelajaran adalah dengan menggunakan media dan alat peraga pegajaran. Apabila materi pembelajaran berupa data dan angka, maka guru lebih baik menggunakan bagan grafik dan gambar-gambar. Dengan cara seperti ini akan membantu siswa untuk mempermudah memahami materi pembelajaran. Adapun macam-macam grafik yakni grafik batang, garis,dan lingkaran.

Salah satu contohnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1

Grafik Tingkat Kecelakaan

Contoh grafik diatas dinamakan grafik batang.

Data pada grafik diatas dapat dirubah menjadi grafik garis, sbb :

Gambar 2

Grafik Tingkat Kecelakaan

Contoh grafik lingkaran dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 3

Grafik Tingkat Kecelakaan

25.7%

(130)

29.7%

(150)

24.7%

(125)

19.8%

(100)

Grafik lingkaran diatas menggambarkan prosentase tingkat kecelakaan berdasarkan tahun kejadian. Apabila guru akan menerangkan arus komunikasi atau interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran dapat dikaitkan dalam bagan berikut ini.

Bagan 1

Contoh bagan dalam Proses Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran harus ada tiga unsur penting, yaitu: guru, materi, dan siswa. Materi yang disampaikan kepada siswa harus disampaikan berdasarkan kurikulum yang ada dan disampaikan dengan menggunakan metode dan media yang memadai.

Contoh penggunaan gambar dalam pengajaran IPS, apabila guru menerangkan materi tentang lingkungan Indonesia, maka guru membentangkan gambar peta Indonesia dimuka kelas. Penggunaan grafik, bagan, dan ganbar dalan pengajaran IPS, agar dapat menghindari sifat verbalisme bagi siswa.

Penyajian informasi yang dibantu dengan alat peraga berupa grafik,bagan, dan gambar merupakan salah satu upaya penyajian informasi yang menarik bagi siswa dan tujuan pembelajaran akan tercapai secara efektif.

Seorang guru atau peneliti apabila menyajikan secara efektif hendaknya memenuhi ketentua-ketentuan berikut ini:

1. Penyaji informasi hendaklah berpribadi menarik dan pandai berbicara didepan

murid dan khalayak.

2. Informasi yang akan disajikan hendaklah dikemas secara apik dan menarik

sehingga informasi yang disampaikan dapat dipercaya oleh siswa.

3. Materi informasi yang hendak disajikan memiliki keterkaitan dengan siswa.

4. Informasi yang disampaikan dapat dijadikan dasar penyusunan rencana

pembangunan dimasa yang akan datang.

4. Keterampilan Memanfaatkan Informasi

Dalam suatu kegiatan penelitian sosial terdapat beberapa langkah kegiatan yang ditempuh mulai dari mengumpulkan data atau memperoleh informasi, mengolah data, menganalisa data dan menarik kesimpulan.

Sebagai seorang guru sebenarnya setiap hari mengadakan penelitian dengan siswa walaupun dalam bentuk yang sederhana. Saat mengajar pada dasarnya guru menyampaikan informasi yang telah dimilikinya, baik diperoleh dari buku sumber, media massa, maupun hasil laporan penelitian. Setiap informasi yang dimiliki oleh seseorang, baru dianggap bermanfaat bala ia dapat menggunakan dan memanfaatkaninformasi-informasi dalam pekerjaannya sehari-hari. Misal seorang pengacara harus jeli menerima informasi dari berbagai pihak yang nantinya dapat dimanfaatkanuntuk membela kliennya. Sebelum guru masuk kelas memberikan pelajaran, terlebih dahulu guru itu harus membawa sejumlah informasi yang dimilikinya untuk dimanfaatkan sebagai bahan ajar bagi siswa-siswa didalam kelas.

Data atau informasi yang diperoleh dapat pula dimanfaatkan dasar-dasar perencanaan dimasa yang akan datang, misalnya data mengenai jumlah penduduk pada usia Sekolah Dasar (7-12) dapat dimanfaatkan untuk merencanakan jumlah lokal dekolah, jumlah guruyang diperkirakan disuatu daerah atau negara. Disamping itu data penduduk pada usia angkatan kerja dapat dijadikan dasar untuk merencanakan lapangan kerja yang harus disediakan oleh pemerintah untuk menampung angkatan kerja tersebut.

Dalam memanfaatkan informasi untuk merencanakan pembangunan dimasa datang ada beberapa hal yang harus diperhatikan tentang data yang diperoleh, yakni:

1. Informasi haruslah benar-benar diperoleh dari sumber yang dipercaya.

2. Pengolahan dan analisa data menggunakan teori-teori yang akurat supaya dapat

menarik kesimpulan yang lebih objektif.

3. Informasi yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian sehingga hasil

penelitiannya lebih akurat dan dapat dipercaya.

Selengkap apapun informasi yang diperoleh dalam sebuah penelitian, apabila tidak bisa memanfaatkannya, maka hasil penelitian itu kurang atau tidak dapat memberikan kontribusi positif pada pihak lain, terutama dalam pembangunan dibidang pendidikan nasional.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment