Tuesday, August 7, 2012

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

BAB II
TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

A. Pengertian dan Sumber Tugas Perkembangan

Tugas-tugas perkembangan yaitu tugas-tugas yang harus dilakukan atau dikuasai oleh seseorang dalam masa-masa atau usia tertentu sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Robert Havighurst (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai persyaratan untuk pemenuhan kebahagiaan hidupnya.

Selanjutnya Robert J. Havighurst (Syamsu Yusuf, 2008 : 65) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut

“A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. While failure leads to un happiness in the individual, disapproval by society, and difficulty with later task”.

Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.

3

Yusuf (2008:66) tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebutkan tugas-tugas perkembangan ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.

4

Yusuf (2008:66) mengatakan bahwa munculnya tugas-tugas perkembangan, bersumber pada faktor berikut.

1. Kematangan fisik, misalnya (a) belajar berjalan karena kematangan otot-otot kaki; (b) belajar bertingkah laku, bergaul dengan jenis kelamin yang berbeda pada masa remaja karena kematangan organ-organ seksual.

2. Tuntutan masyarakat secara kultural, misalnya (a) belajar membaca; (b) belajar menulis; (c) belajar berhitung; (d) belajar berorganisasi.

3. Tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, misalnya (a) memilih pekerjaan; (b) memilih teman hidup.

4. Tuntutan norma agama, misalnya (a) taat beribadah kepada Allah; (b) berbuat baik kepada sesama manusia.

B. Tugas-tugas Perkembangan Pada Setiap Fase Perkembangan

1. Tugas-tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-kanak (0,0-6,0) menurut Yusuf (2008:66-69) adalah:

a. Belajar berjalan. Belajar berjalan terjadi pada usia antara 9 sampai 15 bulan, pada usia ini tulang kaki, otot dan susunan syarafnya telah matang untuk belajar berjalan.

b. Belajar memakan makanan padat. Hal ini terjadi pada tahun kedua, sistem alat-alat pencernaan makanan dan alat-alat pengunyah pada mulut telah matang untuk hal tersebut.

c. Belajar berbicara, yaitu mengeluarkan suara yang berarti dan menyampaikannya kepada orang lain dengan perantaraan suara itu. Untuk itu diperlukan kematangan otot-otot dan syaraf dari alat-alat bicara.

d. Belajar buang air kecil dan buang air besar, tugas ini dilakukan pada tempat dan waktu yang sesuai dengan norma masyarakat. Sebelum usia 4 tahun, anak pada umumnya belum dapat mengatasi (menahan) ngompol karena perkembangan syaraf yang mengatur pembuangan belum sempurna. Untuk memberikan pendidikan kebersihan terhadap anak usia dibawah 4 tahun, cukup dengan pembiasaan saja, yaitu setiap kali mau buang air, bawalah anak ke WC tanpa banyak memberikan penerangan kepadanya.

e. Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. Melalui observasi (pengamatan) anak dapat melihat tingkah laku, bentuk fisik dan pakaian yang berbeda antara jenis kelamin yang satu dengan yang lainnya. Dengan cara tersebut, anak dapat mengenal perbedaan anatomis pria dan wanita, anak menaruh perhatian besar terhadap kelaminnya sendiri maupun orang lain. Agar pengenalan terhadap jenis kelamin itu berjalan normal, maka orang tua perlu memperhatikan anaknya, baik dalam memberikan alat mainan, pakaian, maupun aspek lainnya sesuai dengan jenis kelamin anak.

f. Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis. Keadaan jasmani anak sangat labil apabila dibandingkan dengan orang dewasa, anak cepat sekali merasakan perubahan suhu sehingga temperatur badannya mudah berubah. Perbedaan variasi makanan yang diberikan dapat mengubah kadar gula dan garam dalam darah dan air dalam tubuh. Untuk mencapai kestabilan jasmaniah bagi anak, diperlukan waktu sampai usia 5 tahun. Dalam proses mencapai kestabilan jasmani ini, orang tua perlu memberikan perawatan yang intensif, baik menyangkut pemberian makanan yang bergizi maupun pemeliharaan kebersihan.

g. Membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam. Pada mulanya dunia ini bagi anak merupakan suatu keadaan yang kompleks dan membingungkan. Lama kelamaan anak dapat mengamati benda-benda atau orang-orang di sekitarnya.

h. Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain. Anak mengadakan hubungan dengan orang-orang yang ada disekitarnya menggunakan berbagai cara, yaitu isyarat, menirukan dan menggunakan bahasa. Cara yang diperoleh dalam belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang lain, sedikit banyaknya akan menentukan sikapnya dikemudian hari.

i. Belajar mengadakan hubungan baik dan buruk, yang berarti mengembangkan kata hati. Anak kecil dikuasai oleh hedonisme naif, dimana kenikmatan dianggap baik, sedangkan penderitaan dianggapnya buruk (hedonisme adalah aliran yang menyatakan bahwa manusia dalam hidupnya bertujuan mencari kenikmatan dan kebahagiaan). Apabila anak bertambah besar ia harus belajar pengertian tentang baik dan buruk, benar dan salah, sebab sebagai makhluk sosial (bermasyarakat), manusia tidak hanya memperhatikan kepentingan/kenikmatan sendiri saja, tetapi juga harus memperhatikan kepentingan orang lain.

2. Tugas Perkembangan pada Masa Sekolah (6,0-12,0)

Budiamin, dkk (2006:42) mengemukakakn bahwa ada masa ini anak-anak yang berusia antara 6-12 tahun, dunianya lebih banyak disekolah dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan hal itu ada tiga dorongan besar yang dialami anak pada masa ini: (1) dorongan untuk keluar rumah dan masuk kedalam kelompok sebaya (peer group), (2) dorongan fisik untuk melakukan berbagai bentuk permainan dan kegiatan yang menuntut keterampilan/gerakan fisik, dan (3) dorongan mental untuk masuk ke dunia konsep pemikiran, interaksi dan simbol-simbol orang dewasa.

Tugas-tugas perkembangan akhir masa kanak-kanak dikemukakan oleh Havighurst dan Erikson yang dikutip Budiamin, dkk (2006:42-46) adalah sebagai berikut:

· Tugas Perkembangan anak menurut Havighurst

Havighurst mengemukakan bahwa ada Sembilan tugas perkembangan yang seharusnya dicapai oleh anak pada periode sekolah dasar, yaitu sebagai berikut.

a. Mempelajari Keterampilan Fisik yang Diperlukan Untuk Melakukan Berbagai Permainan.

Pada periode ini pertumbuhan otot dan tulang berlangsung dengan cepat. Anak belajar menggunakan otot-ototnya untuk mempelajari berbagai keterampilan. Oleh karena itu, kebutuhan untuk beraktifitas dan bermain sangatlah tinggi. Mereka senang bermain dan melakukan gerakan-gerakan fisik lainnya.

b. Membina Sikap Hidup yang Sehat terhadap Diri Sendiri, Sebagai Individu yang Sedang Berkembang.

Anak hendaknya mampu mengembangkan kebiasaan untuk hidup sehat dan melakukan berbagai kebiasaan untuk memelihara keselamatan, kesehatan, dan kebersihan diri sendiri. Anak hendaknya telah tahu bahaya atau penderitaan yang akan dialaminya apabila ia bertingkah laku yang membahayakan keselamatan dan kesehatan dirinya.

c. Belajar Bergaul dengan Teman Sebaya.

Anak hendaknya mampu membina keakraban dengan orang lain diluar lingkungan keluarga. Anak mampu menguasai pola pergaulan yang penuh kasih sayang, keramahan, dan memahami perasaan orang lain, khususnya teman sebaya. Demikian juga dengan sifat suka menolong, bertenggang rasa dan jujur perlu dipelajari anak.

d. Mulai Mengembangkan peran Sesuai dengan Jenis Kelamin Secara Tepat.

Pada umur 9 dan 10 tahun anak mulai menyadari peranan sesuai dengan jenis kelaminnya. Anak wanita harus menampakkan tingkah laku-tingkah laku yang diharapkan masyarakat sebagai wanita, demikian pula dengan anak pria.

e. Mengembangkan Keterampilan-keterampilan Dasar untuk Membaca, Menulis dan Berhitung.

Karena perkembangan intelektual dan biologis sudah matang untuk bersekolah, maka anak telah mampu belajar disekolah. Anak dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung, karena kemampuan berpikirnya yang memungkinkannya memahami konsep-konsep dan simbol-simbol. Demikian juga anak telah mampu menguasai otot-otot tangan dan jari-jarinya, sehingga terkoordinasi untuk belajar menulis.

f. Mengembangkan Konsep-konsep yang Diperlukan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pada periode ini, anak hendaknya mempunyai berbagai konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Inti dari tugas-tugas perkembangan pada saat ini adalah mengenai konsep-konsep untuk memudahkan anak paham tentang pekerjaan sehari-hari, kemasyarakatan, kewarganegaraan dan masalah-masalah yang menyangkut sosial.

g. Mengembangkan Kata Hati, Moral, dan Skala Nilai

Pada periode sekolah dasar anak hendaknya dapat mengontrol tingkah laku sesuai dengan nilai dan moral yang berlaku. Kecintaan terhadap nilai dan moral hendaknya dikembangkan dengan sebaik-baiknya.

h. Mengembangkan Sikap Terhadap Kelompok dan Lembaga-lembaga Sosial.

Pada hakekatnya pengembangan sikap sosial merupakan dasar bagi kehidupan masyarakat demokrasi Pancasila. Anak mampu belajar untuk menyadari keanggotaannya sebagai masyarakat sekolah. Anak harus belajar mematuhi aturan-aturan sekolah dan mampu menyeimbangkan antara keinginan untuk melakukan kebebasan dengan kepatuhan terhadap kekuasaan orang tua, guru, maupun orang dewasa lainnya. Anakpun harus belajar untuk menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, baik masyarakat kecil (keluarga dan sekolah) ataupun masyarakat yang lebih luas ada pembagian tugas.

i. Mencapai Kebebasan Pribadi

Hakekat tugas perkembangan ini adalah untuk membentuk pribadi yang otonom, tanpa tergantung kepada orang lain dalam mengambil keputusan yang menyangkut dirinya, maupun peristiwa lain dalam kehidupannya.

· Tugas Perkembangan Anak Menurut Erikson

Jika kita meninjau dari teori Erikson maka periode anak umur 6-11 tahun ini disebut sebagai periode aktif. Erikson menamakan demikian karena dominannya kegiatan anak-anak yang berada dalam periode ini untuk melakukan sesuatu sampai berhasil. Mereka menampakkan banyak sekali ide praktis yang tercermin dari sifat antusias yang tinggi untuk membuat berbagai alat permainan seperti layang-layang, sangkar burung bagi anak laki-laki, dan anak perempuan suka membuat kalung manik, main masak-masakan, pakaian boneka dan sebagainya. Apabila anak didorong atau disokong melakukan aktivitas produktifnya dengan cara menyediakan alat yang dibutuhkannya dalam merealisasikan ide-idenya dan menghargai hasil pekerjaannya, maka dorongan untuk melakukan aktivitas-produktif meningkat. Identitas diri juga akan meningkat, dan akan dicapai secara sempurna pada periode berikutnya. Tetapi jika orang tua yang melihat aktivitas anak mengerjakan sesuatu sebagai suatu yang sia-sia dan mematahkannya, maka akan muncul didalam diri anak perasaan tidak mampu atau tidak berdaya.

Pengalaman anak disekolah dapat mempengaruhi perasaan sukses ataukah perasaan gagal dalam diri anak. Seorang anak yang lambat belajar (IQ ± 80-90) sebelum masuk sekolah memiliki perasaan sukses (aktif-produktif), karena orang tuanya menghargai dan menyokong segala hasil pekerjaannya. Tetapi disekolah ia mengalami perasaan pahit, karena ia tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas sekolah seperti teman-temannya yang lain dan guru sering mencelanya. Akibatnya anak mengalami perasaan gagal dan tidak berdaya.

3. Tugas Perkembangan pada Masa Remaja

Budiamin, dkk (2006-46-47) mengemukakan bahwa adolesen atau remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dengan dewasa. Meskipun perkembangan aspek-aspek kepribadian itu telah diawali pada masa-masa sebelumnya, tetapi puncaknya boleh dikatakan terjadi pada masa ini, sebab setelah melewati masa ini, remaja telah berubah menjadi seorang dewasa. Karena peranannya sebagai masa transisi antara masa anak dan dewasa, maka pada masa ini terjadi berbagai gejolak atau kemelut. Gejolak atau kemelut ini terutama berkenaan dengan segi afektif, sosial, intelektual, juga moral. Hal ini terjadi terutama karena adanya perubahan baik fisik maupun psikis yang sangat cepat yang mengganggu kestabilan kepribadian anak.

Lustin Pikunas (1976: 257-259) dalam membahas tugas perkembangan ini, mengemukakan pendapat Mc Candless dan Evans yang berpendapat bahwa masa remaja akhir ditandai oleh keinginan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang secara matang agar diterima oleh teman sebaya, orang dewasa, dan budaya. Pada periode ini remaja memperoleh kesadaran yang jelas tentang apa yang diharapkan masyarakat dari dirinya. Mulai dari Erikson, banyak para ahli psikologi memandang bahwa identity formation (pembentukan identitas/jati diri) merupakan tugas perkembangan utama bagi remaja. Jika remaja gagal atau tidak mendapat keputusan dalam menjawab pertanyaan “siapa saya?” dan “mengapa saya?” maka mereka akan mengalami “peperangan” dalam dirinya. Jika secara terus-menerus, remaja aktif menanyakan tentang kebingungannya mengenai ideologi dan pekerjaan, atau ketidakjelasan tentang peranan dirinya dalam kelompok sebaya atau orang dewasa, maka ia memerlukan moratorium (tahun-tahun tambahan untuk menemukan solusi yang dapat diterima) sebelum mereka mencapai gaya hidup seperti orang dewasa. Pikunas juga mengemukakan pendapat William Kay, yaitu bahwa tugas perkembangan utama remaja adalah memperoleh kematangan system moral untuk membimbing perilakunya.

Budiamin, dkk (2006:47) mengungkapkan beberapa tugas perkembangan yang harus diselesaikan para remaja pada masa ini adalah.

1) Mampu menjalin hubungan yang lebih matang dengan sebaya dan jenis kelamin lain. Remaja hendaknya mampu melihat gadis sebagai wanita dan pemuda sebagai laki-laki, menjadi seorang dewasa diantara orang dewasa lainnya. Belajar bekerja dengan orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, bisa melepaskan perasaan-perasaan pribadi dan mampu memimpin tanpa mendominasi.

2) Mampu melakukan peran-peran sosial sebagai laki-laki dan wanita. Mampu menghargai, menerima dan melakukan peran-peran sosial sebagai laki-laki dan wanita dewasa.

3) Menerima kondisi jasmaninya dan dapat menggunakannya secara efektif. Remaja dituntut untuk menyenangi dan menerima dengan wajar kondisi badannya, dapat menghargai atau menghormati kondisi badan orang lain, dapat memelihara dan menjaga kondisi badannya.

4) Memiliki kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja diharapkan telah lepas dari ketergantungan sebagai kanak-kanak dari orang tuanya, dapat menyayangi orang tua tanpa menghargai orang tua atau orang dewasa lainnya tanpa tergantung pada mereka.

5) Memiliki perasaan mandiri dalam bidang ekonomi. Terutama pada anak laki-laki, kemudian berangsur-angsur pula tumbuh pada anak wanita, perasaan mampu untuk mencari nafkah sendiri.

6) Mampu memilih dan mempersiapkan diri untuk sesuatu pekerjaan. Anak telah mampu membuat perencanaan karir, memilih pekerjaan yang cocok dan mampu ia kerjakan, membuat persiapan-persiapan yang sesuai.

7) Belajar mempersiapkan diri untuk perkawinan dan hidup berkeluarga. Memiliki sifat yang positif terhadap hidup berkeluarga dan punya anak. Untuk anak wanita telah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memelihara anak dan rumah tangga.

8) Mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat. Mengembangkan konsep-konsep tentang hukum, pemerintahan, ekonomi, politik, institusi sosial yang cocok bagi kehidupan modern, mengembangkan keterampilan berpikir dan berbahasa untuk dapat memecahkan problema-problema masyarakat modern.

9) Memiliki perilaku sosial seperti yang diharapkan masyarakat. Dapat berpartisipasi dengan rasa tanggung jawab bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

10) Memiliki seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi perbuatannya.

11) Beriman dan Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dalam mewujudkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang maha Esa, maka remaja seharusnya mengamalkan nilai-nilai akidah, ibadah dan akhlakul karimah.

4. Tugas Perkembangan pada Masa Dewasa

Budiamin, dkk (47-48) pada akhir masa remaja hampir keseluruhan aspek dari kepribadian individu telah berkembang lengkap, dan telah siap untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai orang dewasa. Havighurst membagi kehidupan masa dewasa ini menjadi tiga fase, yaitu: dewasa muda, dewasa, dan usia lanjut.

a. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa muda/dini yakni.

1) Memilih pasangan hidup.

2) Belajar hidup bersama pasangan hidup.

3) Memulai hidup berkeluarga.

4) Memelihara anak.

5) Mengelola rumah.

6) Memulai kegiatan pekerjaan.

7) Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat, warga negara.

8) Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.


b. Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa

Pada masa ini tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan adalah:

1) Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa.

2) Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan ekonomi.

3) Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia.

4) Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa.

5) Membina hubungan dengan pasangan-pasangan keluarga lain sebagai pribadi.

6) Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya.

7) Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua yang bertambah tua.

C. Peranan Sekolah dalam Mengembangkan Tugas Perkembangan Siswa.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematik melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-spiritual, intelektual, emosional, maupun sosial.

Mengenai peranan sekolah dalam mengembangkan kepribadian anak, Hurlock (1986:322) mengemukakan bahwa sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berfikir, bersikap maupun cara berprilaku. Sekolah berperan sebagai substitusi orang tua. Menurut Havighurst (1961:5) sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sehubungan dengan hal ini, sekolah seyogianya berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan remaja itu menyangkut aspek-aspek kematangan dalam berinteraksi sosial, kematangan personal, kematangan dalam mencapai filsafat hidup dan kematangan dalam beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

1) Pencapaian Tugas Perkembangan Melalui Kelompok Teman Sebaya

Teman sebaya mempunyai peranan penting bagi remaja. Remaja sering menempatkan teman sebaya dalam posisi prioritas apabila dibandingkan dengan orang tua atau guru dalam menyatakan kesetiaannya. Dalam masyarakat yang perubahannya serba cepat, sering muncul perselisihan atau kesalahpahaman antara kelompok sebaya remaja dengan orang tua, guru dan orang-orang yang mempunyai otoritas lainnya. Meskipun begitu, apabila situasi ini dapat ditangani secara bijaksana oleh orang dewasa, maka pengalaman remaja dalam kelompok sebaya itu sangat bermanfaat untuk mencapai sikap independensi dan kematangan hubungan interpersonal secara matang. Dalam kelompok sebaya ini remaja dapat menuntaskan tugas-tugas perkembangannya yaitu mencapai hubungan baru yang matang dengan teman sebaya baik pria maupun remaja dan mencapai peran sosial sebagai pria dan wanita.

Upaya sekolah dalam rangka membantu siswa dalam mencapai tugas-tugasnya tersebut adalah memberikan pengajaran atau bimbingan tentang keterampilan-keterampilan sosial, tentang hidup berdemokrasi dan berteman secara sehat, mendiskusikan masalah peranan sosial peranan pria atau wanita dalam masyarakat, menugaskan siswa untuk mengamati kehidupan sosial (menyangkut keterlibatan pria atau wanita dalam keterampilan masyarakat lainnya) sebagai bahan pembahasan dalam diskusi dengan guru.

2) Mencapai perkembangan Kemandirian Pribadi

Remaja merupakan periode perkembangan ke arah kemandirian. Untuk mencapai aspek perkembangan ini, remaja harus dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan seperti menerima keadaan fisiknya dan memanfaatkannya secara efektif, mencapai kemandirian emosional dari orang tua atau orang dewasa lainnya, mencapai jaminan kemandirian ekonomi, mempersiapkan suatu pekerjaan,pernikahan, hidup berkeluarga, dan mengembangkan keterampilan intelektual yang perlu bagi kompetensi sebagai warga negara.

Dalam rangka membantu remaja mencapai tugas-tugas perkembangannya, sekolah dapat memfasilitasinya dengan upaya sebagai berikut.

(a) Memberikan bimbingan kepada para siswa tentang cara-cara memecahkan masalah (problem solving) atau mengambil keputusan.

(b) Membantu siswa mengembangkan rasa percaya dirinya.

(c) Melalui proses belajar mengajar, guru mengembangkan sikap, semangat atau kebiasaan positif siswa untuk belajar.

3) Pengembangan Keimanan dan Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Dalam rangka membantu remaja (siswa) dalam mengokohkan keimanan dan ketaqwaannya, maka sekolah seyogianya melakukan upaya-upaya berikut.

(a) Kepala sekolah, guru-guru dan personel sekolah lainnya harus sama-sama mempunyai kepedulian terhadap program pendidikan agama atau penanaman nilai-nilai agama di sekolah.

(b) Guru agama seyogianya memiliki kepribadian yang mantap (akhlakul karimah), pemahaman dan keterampilan professional, serta kemampuan dalam mengemas materi pembelajaran, sehingga mata pelajaran agama menjadi menarik dan bermakna bagi anak.

(c) Guru-guru menyisipkan nilai-nilai agama ke dalam mata pelajaran yang diajarkannya, sehingga siswa memiliki apresiasi yang positif terhadap nilai-nilai agama.

(d) Bekerja sama dengan orang tua siswa dalam membimbing keimanan dan ketaqwaan siswa.

(e) Menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler kerohanian, pesantren kilat, ceramah-ceramah keagamaan, atau diskusi keagamaan secara rutin.

(f) Bekerja sama dengan orang tua siswa dalam membimbing keimanan dan ketakwaan siswa.

BAB III
SIMPULAN

1. Tugas-tugas perkembangan yaitu tugas-tugas yang harus dilakukan atau dikuasai oleh seseorang dalam masa-masa atau usia tertentu sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berikutnya.

2. Tugas-tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-kanak (0,0-6,0) adalah: Belajar berjalan, belajar memakan makanan padat, belajar berbicara, Belajar buang air kecil dan buang air besar, belajar mengenal perbedaan jenis kelamin, mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis, membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam,belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara, dan orang lain, belajar mengadakan hubungan baik dan buruk.

3. Ada Sembilan tugas perkembangan yang seharusnya dicapai oleh anak pada periode sekolah dasar, yaitu sebagai berikut: Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk melakukan berbagai permainan, membina sikap hidup yang sehat terhadap diri sendiri, sebagai individu yang sedang berkembang, belajar bergaul dengan teman sebaya, mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelamin secara tepat, mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung, mengembangkan Konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan kata hati, moral, dan skala nilai, mengembangkan sikap terhadap kelompok dan lembaga-lembaga sosial, mencapai kebebasan pribadi.

4.

15

Tugas perkembangan pada masa remaja antara lain yakni: Mampu menjalin hubungan yang lebih matang dengan sebaya dan jenis kelamin lain, mampu melakukan peran-peran sosial sebagai laki-laki dan wanita, menerima kondisi jasmaninya dan dapat menggunakannya secara efektif, memiliki kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya. memiliki perasaan mandiri dalam bidang ekonomi, mampu memilih dan mempersiapkan diri untuk sesuatu pekerjaan, belajar mempersiapkan diri untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, mengembangkan konsep-konsep dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat, memiliki perilaku sosial seperti yang diharapkan masyarakat, memiliki seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi perbuatannya. beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

5. Tugas perkembangan pada masa dewasa antara lain yakni Memilih pasangan hidup, belajar hidup bersama pasangan hidup, memulai hidup berkeluarga., memelihara anak, mengelola rumah, memulai kegiatan pekerjaan, bertanggung jawab sebagai warga masyarakat, warga negara. menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.

6. sekolah merupakan faktor penentu bagi perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berfikir, bersikap maupun cara berprilaku. Sekolah berperan sebagai substitusi orang tua. Sekolah mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa mencapai tugas perkembangannya. Sekolah seyogianya berupaya untuk menciptakan iklim yang kondusif atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai perkembangannya.


DAFTAR PUSTAKA

Alimin, Z. 2008. Tugas-tugas Perkembangan, [Online] Tersedia: http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-perkembangan_02.html [07 Februari 2012]

Aljauhari, Tanto. 2010. Fase.. dan ….TugasPerkembangan, [Online].. Tersedia:http://jawharie.blogspot.com/2010/11/fase-dan-tugas-perkembangan [10 Februari 2012]

Budiamin, A., dkk. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI Press.
Lingkan, J. 2011. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik, [Online] Tersedia:
http://jeylen-lingkan.blogspot.com/2011/10/tugas-tugas-perkembangan-peserta-didik.html [07 Februari 2012]

Yusuf, Syamsu, M.Pd., (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Rosda Karya.

Reaksi:

1 komentar: